imaji-imaji

Imaji-Imaji

tubuh-tubuh-margin

Tubuh-Tubuh Margin

myspace

my space


Hidup itu meruang, sudah dimulai sebelum munculnya kesadaran dan terutama ketika kita “terlempar” ke dunia. Manusia merasakan bahwa dia benar-benar ada dan hadir karena dia diselimuti oleh ruang, dan ketika pikirannya berinteraksi dengan ruang muncullah kemudiaan ruang yang satu lagi, ruang simbolik atau ruang pengetahuan.

Setiap manusia dalam perkiraan optimis, merindukan ruang khusus, ruang pribadi yang menambah kenyamanan gerak hidupnya dan siapa pun memiliki peluang untuk menciptakan ruang simbolik darimana eksistensinya tampil. Ketika lahir manusia seperti terjebak dalam ruang kongkrit, ruang yang mendeterminir tubuhnya untuk sekian lama. Dalam ruang ini, anak manusia benar-benar tak berdaya, butuh perhatian atau penjagaan ekstra ketat dari orang tua hingga tubuhnya tumbuh kuat dan pikirannya mampu bermain-main dengan ruang abstrak seperti norma-norma dan rumus-rumus ilmu pengetahuan.

Karya seni muncul ketika manusia sanggup bermain-main dengan ruang abstrak, ketika seniman mengekspos ruang-ruang sesuai dengan sudut pandangnya. Setiap karya seni merupakan tampilan dari sudut pandang subjektif dari sang seniman sendiri karena tak terlepas dari minat dan pergumulannya atas ruang-ruang tertentu.

Pada pameran di Philo Art Space kali ini, kita berhadapan dengan ruang-ruang menurut pandangan atau pergumulan subjektif para seniman itu dan barangkali saja kita merasa terwakili dan terlibat dalam pergumulan yang sama. Menariknya, bahwa ruang-ruang subjektif yang tampil di manapun dan khususnya pada pameran ini senantiasa menyadarkan kita bahwa kita sudah tentunya hidup dalam ruang plural. Ruang subjektif mengandaikan ruang plural bahwa kita masing-masing memiliki pandangan yang berbeda tentang gerak, kesempatan, dan harapan hidup.

Ade Pasker, menampilkan ruang darimana kehidupan pribadinya ada di sana, ruang keramaian jalan. Ruang di mana kita bisa berinteraksi dengan siapa pun, sahabat dan orang asing, dalam waktu relatif lama maupun singkat, menunggu atau melepas waktu dengan percuma. Keramaian jalan merupakan salah satu simbol dari keseharian hidup manusia urban.

Sedang Feri Eka Candra membidik sebuah ruang yang diam, meditatif, steril, ruang perpustakaan darimana produk pengetahuan abstrak kita muncul dari sana. Ruang perpustakaan kemungkinan sebuah ruang yang dengan sendirinya mengambil garis batas yang tegas dan hampir tak bisa berkompromi dengan ruang keseharian manusia pada umumnya.

Perhatian Deskhairi berbeda lagi, pada ruang yang lebih luas namun cukup memprihatinkan sebagai sebuah ekosistem yang sedang terancam punah. Manusia seharusnya bagian dari alam namun penciptaan ruang abstraknya yakni pengetahuan tak terbantahkan lagi memampukannya mengambil posisi otonom di luar alam lalu mengendalikan bahkan sanggup menghancurkan
alam itu sendiri.

Nyaris sama dengan ruang yang ditampilkan Nyoman Sujana Kenyem, masih ada harapan bagaimana manusia dengan alam berinteraksi secara harmonis, masih menyisakan kegembiraan dan merayakan kehidupan. Bahkan dari sana manusia masih memiliki kesadaran bagaimana mengarahkan tapaknya menuju ke ruang khusus dan di sana kita menemukan enerji kehidupan
yang sesungguhnya.

Ruang bagi Sujarwo khas representasi dari sosok-sosok urban yang kadang membutuhkan kesendirian alias sepi dari keramaian namun masih tetap bagian dari keramaian itu. Sering kesendirian merupakan momen atau dijadikan kesempatan introspeksif bahkan menyusun strategi kerja agar tetap survive.

Bagi Dedy Supriadi ruang tak lain adalah garis yang mewujud teks. Tak ada ruang hampa termasuk diri manusia itu sendiri. Di manamana adalah teks dan setiap ruang dipenuhi jejak-jejak teks. Ke mana lagi akan kita arahkan langkah kita dalam ruang tekstual? Tak lain marilah kita terus-menerus belajar membaca kehidupan.

Pada Erizal AS, kita menemukan hamparan ruang yang luas sebagai dunia kehidupan manusia. Ada kaitannya dengan relasi antara aku dan kamu yang berada dalam suasana hati tertentu. Kegembiraan menjadikan ruang bisa tak terbatas dan kita menari-nari menikmati hidup di sana.

Lain lagi dengan Rinaldi yang merepresentasikan ruang bawah sadar yang cukup dramatis. Mimpi bisa dibaca sebagai puisi ataupun prosa kehidupan ketika kesadaran tak sanggup menampung keinginan atau harapan kita. Bahkan mimpi mungkin merupakan cerita traumatis yang demikian jujur bahwa kita masih menyisakan waktu untuk berbuat sesuatu.

Selamat berpameran!
Tommy F Awuy
kurator

Catalog:

My Space

Artist:
Erizal ASDedy SufriyadiNyoman Sujana KenyemFeri Eka ChandraRinaldiDeskhairiAde PaskerSujarwo

 

 

urban-in-between

Urban In Between