Karya Delapan Pelukis Akan Dipamerkan

JAKARTA, KOMPAS.com | Selasa, 30 Juni 2009  | source link : kompas.com

Philo Art Space akan menggelar pameran lukisan bertema “Urban Figure” pada 4 Juli 2009 yang akan menampilkan karya delapan pelukis berlokasi di Jalan Kemang Timur, Jakarta Selatan.

Penyelenggara pemeran tersebut Amalia Ahmad dalam siaran persnya di Jakarta, Senin, mengatakan, delapan pelukis yang akan menampilkan kebolehannya pada pameran tersebut yakni, Acep Zamzam Noor, Agustinus Teddy Darmanto, Budi Hardyantoni, Cubung WP, Fitrajaya Nusananta, Indyra Ipong Purnama Sidhi, Rudi ST Darma dan Tommy F Awuy.

Sementara Robertus Robert dalam kuratorialnya bertajuk “Tubuh Eksplisit dan Paradoks” menyatakan, melalui pengungkapan “tubuh murni” banyak seniman berharap bahwa relasi antara tubuh (manusia) dan truktur menjadi lebih berimbang.

“Dengan kata lain, eksplisitas tubuh diperlukan untuk menegaskan subyektifitas, mengukuhkan posisi atas manusia, benda, struktur, dunia dan waktu,” kata doktor filsafat tersebut.

Ia mengatakan, cukup lama dunia seni mencoba suatu upaya untuk menguak keterkaitan yang jelas antara cara dalam melihat tubuh dan cara untuk menstrukturkan tubuh dalam suatu logika komoditifikasi industri perkotaan kontemporer.

Dalam kurun belakangan ini, imaj yang dibangun oleh media mengenai tubuh (khususnya tubuh perempuan), lebih banyak menggambarkannya semata-mata sebagai simbol hasrat secara umum. Sayangnya, karena hasrat sendiri tidak lepas dari konstruksi komoditi sehingga, tubuh senantiasa dianggap tidak lebih sebagai etalase saja dari komoditi.

Uniknya, dalam perjuangan menghadapi  eksplisitas material kapitalis terhadap tubuh dan totalisme hasrat, banyak seniman menggunakan metode yang unik, yakni sama-sama mengungkap dan mengeksplisitkan tubuh juga.

“Sehingga dengan itu, mereka berharap `tubuh murni’ akan muncul, dan perlahan-lahan akan mengalahkan citra tubuh sebagai etalase itu,” katanya.

Pada lukisan Budi Hardyantoni, kata Robert, tubuh manusia dikamuflase menjadi tubuh seekor babi dan sebagaimana tereksplisit sedang asyik duduk dan dengan lahapnya menyantap permen. Bungkusan permen sendiri tidak terbuka lepas total untuk menggambarkan bagaimana hasrat menghabisi target telah sampai pada titik tak kenal kompromi dalam kehendak atau hasrat memanjakan tubuh.

Ironi eksplisitas tubuh juga unik dalam penggambaran Ipong Purnama Sidhi mengenai Badut. Badut adalah perwujudan dari kemandegan dialektis dalam suatu forma kebertubuhan tertentu.

“Di satu sisi Badut adalah lambang ekspresi yang optimum, namun di lain sisi ia menyembunyikan siapa dirinya. Topengnya yang dipasang dalam senyum lebar yang konstan adalah perwujudan kemandegan dialektis,” katanya.