Nikmatilah Hari Ini

Yusuf Susilo Hartono | 19 Oktober 2010  | source link : VisualArtsMagazine

Di tengah kesibukan kerja,kerja, dan kerja, seseorang perlu bisa menikmati hari ini. Bagaimana para perupa membahasakan kenikmatan itu di  atas kanvas? Philo Art Space tak jemu-jemunya mengaduk-aduk tema urban culture. Ahli filsafat
Tommy F. Awuy dan pasangannya Amalia Ahmad mantan public relation ANTV yang sama-sama banting stir ke seni rupa kontemporer, menyulam dan menjaga benang merah tema itu dengan konsisten untuk pameran-pameran di ruang seninya.
Sikap konsisten ini, dalam perjalanannya kemudian menjadi semacam ciri khas yang melekat pada eksistensi ruang seni di kawasan Kemang Timur itu.

Dalam program pameran terbarunya pada awal sampai pertengah Juli yang lalu, Tommy F.Awuy –yang beberapa waktu belakangan ini memantapkan diri sebagai kurator internal ruang seninya– menyodorkan tema “Carpe Diem”, dari bahasa Yunani Kuno yang berarti “nikmatilah hari ini.” Frasa ini merupakan kalimat perintah, yang jawaban dan tindakannya sangat bergantung masing-masing individu, terkait dengan pengalaman, latar belakang pendidikan, budaya,  ruang dan waktu. Secara umum bekerja, bekerja, dan bekerja, adalah jawaban bagi mereka yang hidup di kota besar, dengan waktu yang berlari begitu cepat, sementara jalan raya kehidupan macet di sana-sini. Ini saja sudah menimbulkan pertanyaan dan tanggapan menarik: Lalu bagaimanakah menikmati hari ini (setelah seseorang memacu dirinya dengan kaki dijadikan kepala dan kepala dijadikan kaki)?  Fenomena yang menyolok mata dari kelas
menengah kaum urban ialah, mereka menikmati hari ini dengan nongkrong di café, mall, resto, karaoke, salon, clubbing, hingga hal-hal yang nikmat tapi terlarang (tapi empuk untuk infotainment).

Dari para perupa yang terpilih mengikuti pameran dengan tajuk itu, penggambaran “nikmatilah hari ini” cukup bervariasi dalam pilihan bentuk, medium hingga ukuran. Bambang Sudarto menikmatinya dengan “satu orang dengan dua perempuan”,  Denny Susanto dengan “selancar”, Isa Perkasa dengan membebaskan diri dari tabung gas 3 kg yang akhir-akhir seperti teroris, meledakkan diri kapan dan dimana saja. Atau kita memilih seperti monyet dengan menenggak minuman beralkohol (?) dalam dalam karya paul Hendro. Atau malah lelah dan tak berdaya seperti lukisan Utin Rini Incognito Series yang belum selesai karena keburu sakit.

Dan yang menarik adalah tawaran Deddy PAW “menikmati hari ini” lewat lukisan apel bolong yang didalamnya ada patung Buddha. Kita menangkap pesan yang sangat jelas seorang pelukis Jawa, dengan filosofi warisan nenek moyang,”ngono yo ngono, ning ojo ngono”. Katakanlah, seseorang harus merayakan hari ini lewat tindakan konsumtif, materialistik, hedonis, tapi tetap ingatlah selalu pada yang lebih inti, yakni religiusitas. Pilihan ikon Buddhis, memang yang sering ia pakai secara aman, selain apel, untuk mengusung ideom artistiknya. Meskipun saya tahu dia bukan seorang penganut Buddha. Repotnya kalau ia hendak menghormati agamanya (Islam) lalu menggambar sosok Muhammad dalam apel, meski niatnya baik (da’wah) tapi apa kata dunia? Lagi pula tidak enak kan, kalau sampai meneggelamkan popularitas “Ariel, Luna Maya dan Cut tari” yang telah memilih “merayakan hari ini” dengan cara menodai bangsa dan agamanya. Carpe Diem! [V]